Jumat, 28 Agustus 2015

Luka

Tanganku bergerak menggapai lembaran foto yang belakangan ini terlihat lebih menarik dari buku pelajaran matematika.

Ini hanya selembar foto yang sudah usang, tapi kenapa aku masih ingin menyimpannya?
Jawabannya kamu.
Karena disana ada kamu. Karena dengan melihatnya rasa rinduku terobati (setidaknya).

Wanita terhebatku..
Ini sudah empat tahun berlalu. Tapi luka itu belum juga mengering. Bahkan mungkin masih bernanah.

Kadangkala saat ada yang menyinggung namamu ataupun memaksa otakku mengingat tentangmu lagi, Luka itu semakin menganga.
Menimbulkan perasaan sesak yang berlebih hingga air mata tak kunjung berhenti mengalir.

Aku lelah.
Terpekur dalam memori lama yang sewaktu-waktu menyerangku bertubi tubi.
Aku lelah.
Terkurung dalam memori pahit yang sewaktu-waktu membuatku sakit.
Aku lelah, mama...
Berpura pura tidak peduli saat mereka menyinggung tentangmu lagi, dan pada akhirnya aku masuk dan menangis sejadi-jadinya didalam kamarku.

Pertanyaannya,
Seberapa besar luka yang ada, hingga perih selalu datang di waktu waktu tertentu?

Rindu

Hello kamu yang jauh dibalik awan!
Kamu tau? Hari ini aku menemukan selembar foto terselip dibawah tumpukan baju, hal pertama yang terselip dalam pikiranku saat melihat lembaran foto yang sudah usang itu adalah membuangnya.
Tapi,Hey. Aku terkesiap saat disana juga terpampang wajahmu.
Kamu tersenyum. Manis. Manis sekali.
Aku jadi rindu.
Sedang apa kamu disana? Mama...

Kata yang tak sempat terucap

Kata yang tak sempat bibirku ucap.
Sebaris kalimat yang mungkin tak kesampaian, dan disini. Aku mencurahkan semuanya.
Semua kata yang tak sempat terucap.


**Jesicadioneririmasse